......

Minggu, 20 Mei 2012


Kemarin..
Setelah sholat maghrib..
Ruang tamu rumah..

Baca kotak masuk di ponsel Bapak, dari Mama..
Aku diam..
Menangis di sebelah Bapak..

Tadi..
Sedikit pesan singkat buat Mama..
Minta maaf atas salahku..
Kamu belajar dan sholat, Jangan dipikir, Mama sehat, balasnya..



Ya Allah, beri kesehatan buat Mamaku.. :(

Pertimbangan Model Kerjasama Pemerintah dan Swasta dalam Pengembangan Proyek Surabaya Sport Center (SSC)

Jumat, 13 Januari 2012

Pengembangan Surabaya Sport Center (SSC) yang menelan biaya yang tidak sedikit, dapat diprediksi bahwa biaya proyek ini tentunya tidak dapat ditanggung sendiri oleh pemerintah kota. Harusnya, proyek ini memerlukan bantuan lain baik dari pihak swasta atau pemerintah pusat serta masyarakat diharapkan dapat mengurangi beban biaya dana rencana pembangunan. Oleh karena itu, pihak pemerintah kota bisa melibatkan pihak swasta dalam pengembangan infrastruktur komplek sarana olah raga terpadu di Surabaya ini. Sebelum melakukan kerja sama dengan pihak swasta sebagai investor dalam pengembangan sarana infrastruktur komplek Surabaya Sport Center (SSC) ini, pemerintah harus mempertimbangkan beberapa aspek keuntungan dan kerugiannya.
Pertama, bangunan yang bersifat public service (non profitable), yaitu pembangunan infrastruktur yang bertugas mengembang tugas pelayanan masyarakat dalam hal ini hidang keolahragaan cukup tinggi, dimana kemungkinan mendatangkan keuntungan secara finansial sangat rendah, dilaksanakan dengan pendanaan pemerintah sepenuhnya, meliputi stadion utama dan stadion atletik. Peran pemerintah sangat dominan, baik dalam pengendalian dan pengawasan, sedang dalam hal konstruksi dan pengelolaannya dapat diserahkan ke pihak swasta melalui kerjasama dengan resiko investasinya cukup rendah bagi pihak swasta, bentuk kerjasama dengan mitra swasta dalam pembangunan infrastruktur yang sesuai adalah turn-key delivery, sedang dalam pengelolaannya dapat dilaksanakan oleh badan pengelola atau melaui kerjasama pengelolaan dengan mitra swasta melalui manajemen kontrak.
Kedua, yaitu bangunan yang bersifat semi publik (semi profit), dilaksanakan dengan pendanaan dari swasta. Pada bangunan semi profit masih dimungkinkan adanya keuntungan finansial serta mampu membiayai keperluan operasional dan pemelihranaan fasilitas infrastruktur yang meliputi: indoor stadium, aquatic center, tennis court. Kerjasama dengan swasta adalah melalui BOT (build operate transfer) untuk pembangunan dan pengelolaan, serta KSO (kerjasama operasional) untuk pengelolaan.
Ketiga, yaitu bangunan yang bersifat komersil (profit), dilaksanakan dengan pendanaan dominan dari swasta. Dalam pembangunan ini dituntut untuk menghasilkan profit yang tinggi sehinggan pemerintah kota tidak perlu menganggarkan dana subsidi APBD untuk badan pengelola stadion surabaya, meliputi fasilitas perniagaan, fasilitas hiburan, convention hall, apartemen, hotel. Peran pemerintah sangat minim, baik itu dalam hal perencanaan, pembangunan, pendanaan, pengawasan, pengelolaan, dan pemeliharaan. Bentuk kerjasama dengan mitra swasta yang sesuai adalah dengan concession agreement.
    Dari beberapa aspek keuntungan dan kerugian tersebut, pemerintah dapat mempertimbangkan  bentuk kerja sama dengan pihak swasta yang nantinya akan dilakukan dalam pengembangan komplek Surabaya Sport Center (SSC) tersebut. Pemerintah bisa menggunakan bentuk kerjasama seperti, Service Contract-Public Owner, Management Contract (Operating-Maintenance), Leasing Contract-Public Owner, Build-Operate-Transfer (BOT), maupun Concession Agreement-Public Owner.



Oleh :
R.M. Eddo Sapratama
3609100010

PENERAPAN AGROPOLITAN DAN AGRIBISNIS DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI DAERAH

Rabu, 11 Januari 2012

Pembangunan ekonomi yang sentralistis dimasa lalu, mengakibatkan terjadinya krisis multidimensi yang dialami bangsa Indonesia, khususnya krisis dibidang ekonomi. Krisis ekonomi yang terjadi merupakan akibat dari masalah fundamental dan keadaan khusus.

Masalah fundamental adalah tantangan internal berupa kesenjangan yang ditandai oleh adanya pengangguran dan kemiskinan, sedangkan tantangan eksternal adalah upaya meningkatkan daya saing menghadapi era perdagangan bebas. Keadaan khusus adalah bencana alam kekeringan yang datang bersamaan dengan krisis moneter yang merembet dari negara tetangga. Krisis ekonomi ditandai melemahnya nilai tukar uang dalam  negeri terhadap mata uang asing (Gunawan Sumodiningrat, 2000).

Hal tersebut bukan gagal membangun perekonomian nasional yang kokoh, tetapi justru telah menciptakan disparitas ekonomi antar daerah dan antar golongan masyarakat dinegara kita. Disparitas ekonomi yang terjadi sudah sangat mengkhawatirkan, karena selain telah memicu kecemburuan dan kerusuhan sosial, juga telah menimbulkan gejala disintegrasi berbangsa dan bernegara.

Dewasa ini pemerintah memang telah mulai semakin memperhatikan pembangunan ekonomi daerah melalui jargon-jargon ekonomi politik seperti desentralisasi ekonomi, otonomi daerah, ekonomi kerakyatan dan pemberdayaan usaha kecil, menengah dan koperasi. Namun hingga saat ini belum jelas formatnya dan bagaimana implementasi konkritnya masih kita tunggu hasilnya. Bahkan apabila ditelaah lebih jauh, kadangkala kebijaksanaan makro ekonomi yang diterapkan justru tidak konsisten dan bertentangan dengan upaya pengembangan ekonomi daerah.

Kenyataan telah membuktikan dan menyadarkan kita semua akan pentingnya peran strategis sektor pertanian sebagai pilar penyangga atau basis utama ekonomi nasional dalam upaya penanggulangan dampak krisis yang lebih parah. Sektor pertanian rakyat serta usaha kecil dan menengah relatif mampu bertahan dalam menghadapi krisis ekonomi dan menyelamatkan negara kita dari situasi yang lebih parah. Disamping pendekatan kemitraan dan penguatan jaringan, akan disinergikan pula dengan pendekatan peningkatan nilai tambah produksi pada usaha-usaha kecil yang berorientasi pada pasar/ekspor sesuai kompetensi ekonomi lokal daerahnya (Departemen Perindustrian dan Perdagangan, dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, 2000).

Setelah era reformasi, telah terungkap bahwa pembangunan ekonomi yang sentralistis (top-down) membawa akibat terjadinya disparitas ekonomi yang sangat mengkhawatirkan bagi bangsa dan negara kita. Pada masa lalu, kebijakan pembangunan yang top-down, dimana pemerintah pusat cenderung terlalu banyak turut campur tangan terhadap kegiatan-kegiatan ekonomi di daerah.

Hal tersebut mengakibatkan rapuhnya perekonomian nasional dan parahnya disparitas ekonomi antar daerah dan golongan masyarakat, karena tidak berakar kuat pada ekonomi daerah.

Oleh karena itu, dengan diberlakukannya Konsep Otonomi Daerah dengan kebijakan pembangunan ekonomi yang bottom-up, sektor-sektor ekonomi yang dikembangkan disetiap daerah harus dapat mendayagunakan sumber daya yang terdapat atau dikuasi oleh masyarakat di daerah tersebut. Cara yang paling efektif untuk mengembangkan perekonomian daerah adalah melalui pengembangan agribisnis. Pengembangan agribisnis yang dimaksud bukan hanya pengembangan pertanian primer atau subsistem on farm agribusiness, tetapi juga mencakup subsistem agribisnis hulu (up stream agribusiness), yaitu industri-industri yang menghasilkan sarana produksi bagi pertanian primer, seperti industri pembibitan/perbenihan, industri agro-otomotif, industri agro-kimia, dan subsistem agribisnis hilir (down stream agribusiness), yaitu industri-industri yang mengolah hasil pertanian primer menjadi produk olahan beserta kegiatan perdagangannya.

Pengembangan agribisnis di setiap daerah jangan hanya puas pada pemanfaatan kelimpahan sumber daya yang ada (factor driven) atau mengandalkan keunggulan komparatif (comparative advantage) seperti sekarang ini, tetapi secara bertahap harus dikembangkan ke arah agribisnis yang didorong oleh modal mane-made (capital driven) dan kemudian kepada agribisnis yang didorong oleh inovasi (innovation driven). Dengan perkataan lain, keunggulan komparatif agribisnis pada setiap daerah ditranformasi menjadi keunggulan bersaing (competitive advantage) melalui pengembangan mutu sumber daya manusia, teknologi, kelembagaan dan organisasi ekonomi lokal yang telah ada pada masyarakat setiap daerah (bukan menggantikannya dengan sesuatu yang benar-benar baru).

Dengan transformasi agribisnis seperti ini, kemampuan rakyat untuk menghasilkan produk-produk agribisnis yang saat ini masih didominasi oleh produk-produk yang bersifat natural resources and unskill labor based, secara bertahap beralih kepada produk-produk agribisnis yang bersifat capital and skill labor based dan kemudian kepada produk yang bersifat knowledge and skill labor based. Dengan transformasi produk agribisnis yang demikian, maka produk-produk agribisnis yang dihasilkan oleh setiap daerah dapat mampu bersaing dan memasuki segmen pasar yang lebih luas di pasar internasional. Pengembangan produk yang demikian juga akan memperbesar manfaat ekonomi yang dapat dinikmati oleh rakyat di setiap daerah.

Pengembangan agribisnis di setiap daerah harus juga disertai dengan pengembangan organisasi ekonomi, khususnya rakyat petani, agar manfaat ekonomi yang dihasilkan dapat benar-benar dinikmati oleh rakyat dan daerah. Di masa lalu, rakyat petani (bahkan daerah sentra-sentra agribisnis) hanya menikmati nilai tambah dari subsistem on farm agribisnis yang umumnya relatif kecil. Nilai tambah yang paling besar, yakni pada subsistem agribisnis hulu dan hilir, dinikmati oleh para pedagang atau pengusaha luar daerah. Hal inilah yang menyebabkan mengapa pendapatan petani tetap rendah dan ekonomi daerah sentra-sentra agribisnis kurang berkembang.

Di masa yang akan datang, para petani harus diikutsertakan untuk menikmati nilai tambah pada subsistem agribisnis hulu dan hilir melalui pengembangan koperasi agribisnis yang ikut mengelola subsistem agribisnis hulu dan hilir melalui usaha patungan (joint venture) dengan pengusaha swasta atau BUMN/BUMD yang saat ini telah exist pada subsistem tersebut. Jika pengembangan agribisnis yang demikian dapat berlangsung di setiap daerah, maka perekonomian daerah akan mampu berkembang lebih cepat. Setiap peningkatan perkembangan agribisnis di daerah akan secara langsung mendorong pengembangan ekonomi daerah, karena sebagian besar nilai tambah agribisnis akan tertahan di daerah yang bersangkutan. Selanjutnya peningkatan pendapatan rakyat di daerah akan menarik perkembangan sektor-sektor ekonomi lainnya di luar agribisnis, sehingga kesempatan-kesempatan ekonomi baru akan berkembang di setiap daerah.

Meningkatnya kesempatan ekonomi baru di setiap daerah akan mampu menghambat arus urbanisasi, bahkan sebaliknya mampu mendorong ruralisasi sumber daya manusia, sehingga penduduk yang selama ini terkonsentrasi di Pulau Jawa akan menyebar ke seluruh daerah tanpa program transmigrasi.

R. Mohammad Eddo S.
PWK-ITS / 3609100010

Pengembangan Kampung Wisata Nelayan Puger, Kabupaten Jember

Selasa, 01 November 2011


Dewasa ini, sebagian besar (99,98%) usaha perikanan di Indonesia dilakukan oleh usaha perikanan rakyat dan sisanya (sekitar 0,02%) merupakan usaha perikanan industri. Salahsatu kawasan pantai yang memberikan sumbangan terbesar dalam produksi perikanan,yakni pantai Utara-Selatan Jawa. Kawasan pantai ini umumnya dimanfaatkan untuk arealpenangkapan ikan, transportasi laut, pelestarian alam, budidaya laut, budidaya tambak, pariwisata, dan permukiman (kampung) nelayan yang merupakan bagian dari kehidupan bermukim masyarakat di kawasan pesisir.


Pantai Puger yang berada di wilayah Kecamatan Puger Kabupaten Jember Provinsi JawaTimur merupakan salah satu kawasan yang selama ini dikenal sebagai lokasi pendaratan ikan yang cukup besar di Kabupaten Jember. Wilayah Puger yang sebagian besarpenduduknya adalah nelayan, pengolah ikan, dan pedagang ikan, terdiri dari Desa PugerWetan dan Puger Kulon. Kampung Nelayan Desa Puger Wetan berada di kawasan tepi Sungai Bedadung, sedangkan Kampung Nelayan Desa Puger Kulon berada di kawasantepi Sungai Besini. Kedua kampung nelayan tersebut dibatasi oleh kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Puger yang tertetak di tepi muara kedua sungai tersebut menujuSamudera Indonesia.


Kampung Wisata merupakan suatu bentukan wisata dimana masyarakat lokal yang diharapkan akan membangun, memiliki dan mengelola langsung fasilitas wisata danpelayanannya, sehingga masyarakat diharapkan dapat menerima secara langsungkeuntungan keuntungan ekonomi maupun keuntungan lainnya dari pariwisata. Bentukkongkritnya berupa kampung yang digunakan untuk wisata karena potensi alami yang minimakan unsur artifisial pada kondisi alam dan dinamika masyarakat tradisionalnya. Jadi konsepkampung wisata merupakan wisata terhadap kampung dengan segala nuansanya, bukankampung buatan atau segala sesuatu yang di-kampung-kan/dibuat semirip mungkin dengan kampung.


Pengembangan konsep Kampung wisata ini mengalami beberapa hambatan/ masalah pada keadaan eksisting di lapangan, diantaranya adalah :

1. Zonasi permukiman yang belum tertata secara optimal, sehingga terkesan kotor dan kumuh.
2. SDM masyarakat kampung yang masih tergolong rendah.
3. Kurangnya sarana dan prasarana penunjang, terutama fasilitas PPI yang kurang memadai.


Dari semua permasalahan tersebut, dibawah ini merupakan beberapa pemecahan atau penjabaran konsep yang mungkin dapat dilakukan setelah mengkaji pembahasan di atas.


Pendekatan Pengembangan

Community tourism atau wisata komunitas (pariwisata berbasis masyarakat) adalah sebuah bentuk pariwisata yang bertujuan untuk memasukkan dan menguntungkan masyarakat lokal, terutama masyarakat pribumi dan masyarakat pedesaan/perkampungan.Sebagai contoh, masyarakat pedesaan memandu turis di desa mereka, mengatur suaturencana bersama-sama dan membagi keuntungan bersama-sama pula. Pariwisata ini membuka dunia petualangan dan berbagai macam kesempatan. Sebuah wisata komunitasyang baik akan mampu membawa wisatawan menjalani alur wisata tersebut. Wisatawanakan bertemu masyarakat dan mempelajari hal-hal tentang mereka lebih jauh serta kebudayaan mereka daripada jenis wisata biasa.


Keistimewaan lainnya adalah kepeduliannya terhadap budaya lokal, warisan budaya, dan tradisi. Seringkali, pariwisata berbasis komunitas ini memperkuat dan menyelamatkan budaya tersebut. Dengan cara yang sama pula, pariwisata berbasis komunitas begitumenghormati dan memberi perhatian kepada warisan alam, dimana potensi lingkunganmenjadi salah satu atraksi yang ditawarkan. Pariwisata berbasis komunitas dikembangkandengan beberapa cara, struktur, tujuan, dan tema yang didasarkan pada kondisi lingkungan,pola pertumbuhan, nilai budaya dan tingkat perkembangannya.

Wisata komunitas, sebagaimana dikemukakan oleh WWF (World Wildlife Fund),adalah melakukan perjalanan ke kawasan yang dihuni oleh masyarakat yang memiliki cirikhusus dan relatif asli dengan minat khusus untuk mempelajari, mengagumi, sertamenikmati pemandangan dan aktivitas masyarakat dengan segala manifestasi budayanya.


Desa/Kampung Wisata

Pengembangan desa/kampung wisata sebagai objek dan daya tarik akan berhubungan dengan wisatawan atau pengunjung yang tinggal di suatu desa/kampungtradisional atau dekat dengan desa/kampung tradisional, atau hanya untuk kunjungansinggah dimana lokasi desa wisata ini biasanya terletak di daerah terpencil. Wisatawan ataupengunjung tidak hanya menyaksikan kebudayaan tradisional, tetapi biasanya ikut langsungberpartisipasi dalam kegiatan masyarakat setempat.

Pendekatan perencanaan pengembangan desa/kampung wisata yang biasa dilakukanadalah community approach atau community based development. Dalam hal ini masyarakatlokal yang akan membangun, memiliki dan mengelola langsung fasilitas wisata dan pelayanannya, sehingga masyarakat diharapkan dapat menerima secara langsung keuntungan ekonomi serta mencegah terjadinya urbanisasi. Penekanan pada pola kehidupantradisional merupakan hal penting yang harus dipertimbangkan, mempersiapkan interaksispontan antara masyarakat dan wisatawan atau pengunjung untuk dapat memberikanpengertian dan pengetahuan pengunjung tentang lingkungan dan kebudayaan setempat,selain memberikan rasa bangga masyarakat lokal terhadap kebudayaannya.

Pembangunan penginapan tradisional yang sederhana dengan menggunakan bahanlokal, metode dan bentuk tradisional diharapkan dapat memberikan kesan tersendiri bagipengunjung, termasuk penyajian masakan tradisional. Perlu dipertimbangkan pula jumlahpenginapan, jenis transportasi tradisional, dan lain-lain. Penataan zona dan penataanlingkungan alam sekitar desa/kampung perlu dilakukan selain penyediaan fasilitas bagiwisatawan atau pengunjung. Dalam penataan zona untuk desa wisata perlu dipertimbangkan front staged an back stage atau daerah depan dan daerah belakang.


Konsep Kampung Wisata Nelayan dalam Community Tourism

Kampung Wisata merupakan suatu bentukan wisata dimana masyarakat lokal yangdiharapkan akan membangun, memiliki dan mengelola langsung fasilitas wisata danpelayanannya, sehingga masyarakat diharapkan dapat menerima secara langsungkeuntungan keuntungan ekonomi maupun keuntungan lainnya dari pariwisata. Bentukkongkritnya berupa kampung yang digunakan untuk wisata karena potensi alami yang minimakan unsur artifisial pada kondisi alam dan dinamika masyarakat tradisionalnya. Jadi konsepkampung wisata merupakan wisata terhadap kampung dengan segala nuansanya, bukankampung buatan atau segala sesuatu yang di-kampung-kan/dibuat semirip mungkin dengankampung.

Penekanan pada pola kehidupan tradisional merupakan hal penting yang harusdipertimbangkan, mempersiapkan interaksi spontan antara masyarakat dan wisatawan ataupengunjung untuk dapat memberikan pengertian dan pengetahuan tentang lingkungan dankebudayaan setempat, selain memberikan rasa bangga masyarakat lokal terhadapkebudayaannya. Wisatawan atau pengunjung tidak hanya menyaksikan kebudayaantradisional, tetapi biasanya ikut berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat setempat.Sedangkan konsep kampung wisata nelayan adalah kampung nelayan yang dijadikan objek wisata yang bersinergi antara potensi wisata berupa wisata alam pantai (laut-sungai) dan wisata perikanan laut.

Bentuk community tourism dipilih sebagai bentukan wisata dalam konsep ini sebagaiupaya pelibatan masyarakat nelayan lokal dalam kegiatan wisata. Jadi, dalam konsepkampung wisata nelayan, masyarakat lokal dilibatkan pada kegiatan-kegiatan yangdirencanakan seperti pemandu wisata dimana penduduk memberikan pengertian danpengetahuan kepada pengunjung tentang lingkungan dan kebudayaan nelayan setempat,sebagai host parents homestay, pengajar ketrampilan, performing arts maupun kegiatanlainnya. Pelibatan ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat kampung nelayan,terutama dalam bidang wisata, namun yang paling penting adalah membuat masyarakatlokal menyadari bahwa segala yang mereka miliki termasuk kearifan lokal yang terdapatdidalamnya sebagai sesuatu yang berharga yang layak untuk dilestarikan.


Landasan Konsepsual Pengembangan

Pengembangan Kampung Wisata Nelayan Puger sebagai bentuk community tourismmemiliki beberapa konsep dalam perencanaan kawasan dan penataan kegiatan wisata yang akan dikembangkan didalamnya. Konsep-konsep tersebut adalah:

1. Konsep penataan kawasan dan obyek-obyek wisata tetap mempertimbangkan keseimbangan ekologi dan karakteristik masing-masing objek.

2. Konsep pengembangan kegiatan wisata dibagi kedalam dua jenis yaitu: (a) wisata utama, yakni kegiatan wisata yang mendapat prioritas pengembangan yangdidasarkan pada ketersediaan potensi dan kemampuannya untuk menyerapbanyak pengunjung; (b) kegiatan wisata penunjang, yakni merupakan kegiatanwisata yang direncanakan dengan tujuan menahan wisatawan agar tinggal lebihlama di daerah tujuan wisata, serta (c) kegiatan pelayanan yang memiliki tujuanuntuk mengakomodasi kebutuhan wisatawan pada saat berwisata.

3. Konsep memadukan kegiatan wisata – baik wisata alam, wisata nelayan, maupun wisata sosial budaya – menjadi kegiatan wisata yang didasarkan pada konsepyang berkaitan dengan spasial pariwisata, karakteristik kegiatan, lokasi kegiatandan masa tempuh kegiatan.

4. Konsep perjalanan konsep wisata berupa perlawatan keliling, yaitu gabungan beberapa lokasi atraksi dan objek wisata menjadi satu rangkaian yang utuh.Kelebihan konsep ini adalah mencegah penggunaan fasilitas dan rute perjalananwisata yang berulang-ulang. Sedangkan kelemahan konsep ini adalah tidak dapatditerapkan apabila letak antara atraksi dan obyek wisata terlalu jauh karenaadanya kendala topografi. Kelemahan ini dapat disiasati dengan pengadaankendaraan yang akan mengangkut pengunjung dari satu kawasan wisata kekawasan wisata lainnya.

5. Konsep pengembangan kawasan kegiatan wisata nelayan didasarkan pada daya dukung lahan terhadap karakter visual dan zona kawasan. Pada setiap kawasankegiatan terdapat pembagian daerah menjadi dua, yakni daerah depan dandaerah belakang. Daerah depan sebagai area penerimaan dan area pelayanan,sedangkan daerah belakang sebagai daya tarik utama atau merupakan lokasitempat berlangsungnya kegiatan wisata.

6. Konsep penataan kawasan, dimana setiap kawasan kegiatan wisata nelayan dibagi ke dalam dua zona(stag e), yakni front stage (zona depan) dan back stage(zona belakang). Front stage adalah tempat pengalaman buatan/artifisial yangberfungsi untuk menarik wisatawan atau memberikan kesan awal, terbagi kedalam dua area, yakni welcome area (area penerimaan) dan service area (areapelayanan). Back stage (zona belakang) merupakan daerah dengan daya tarikutama atau tempat kegiatan tersebut berlangsung. Antar area dalam duastag etersebut dihubungkan oleh jalur sirkulasi, baik jalan primer atau sekunder.

7. Konsep sirkulasi yang dikembangkan didasarkan pada pola yang sudah tersedia berupa jalan primer (utama) dan jalan sekunder (penunjang). Jalur sirkulasi inimenghubungkan main gate/entrance dengan kawasan kegiatan wisata dan antarkawasan kegiatan wisata yang juga berfungsi sebagai koridor wisata(circul ati on corridor).

8. Konsep pelibatan atau partisipasi masyarakat yang didasarkan pada hasil kuisioner mengenai persepsi mereka dan keinginan warga untuk berpartisipasi,dimana pelibatan tersebut disesuaikan dengan kemampuan dan ketrampilan yangdimiliki warga lokal tersebut.

9. Konsep pengelolaan – berupa pengelolaan wisata yang berbasis masyarakat –berarti masyarakat lokal membangun, memiliki dan mengelola segala asetwisatanya. Namun, disini dibutuhkan suatu pihak yang mengenalkan ataupunpihak yang memberikan ide-ide pengembangan yang sifatnya merintis hal-halyang belum ada untuk dikenalkan kepada masyarakat lokal, melalui kegiatanpemberian teladan,asse s sm ent, evaluasi dan monitoring.

Dari semua penjabaran konsep yang ada, yang terpenting adalah peran pemerintah serta masyarakat dalam pengembangan konsep ini secara berkelanjutan untuk kemajuan sektor pariwisata pesisir serta perikanan kelautan untuk mendukung peningkatan perekonomian masyarakat lokal.

IPku turuun .. :(

Jumat, 21 Januari 2011


Banyak alasan kenapa IP semester 3 ini turun. Mungkin aku terlalu banyak maen, jalan, ini, ituuuu. Yang pasti adalah karena aku sedikit lupa sama Allah. Ibadahku kurang! Boleh dibilang lebih banyak dosanya dari nyari pahalanya! T.T .. Daaaaaaaaaan, yang sedikit aku ga ikhlas IPku turun disini adalah faktor DOSEN ! Ga dipungkiri oleh semua mahasiswa, dosen juga mempengaruhi nilai! dan, itu terjadi pada saya.

IP yang aku dapat ya itu usahaku. Itu pertanggung jawabanku ke kedua orang tuaku. Cuma ini yang mungkin buat orang tuaku seneng.

*Maaf ma, maaf Pak .. Semester depan aku naikin IPnya.. :) hehehe

Tapi Allhamdulillaah, buat semester 3 ini IPK masih naik .. wkwkwk *dancing*

Video Moron :D

Selasa, 18 Januari 2011

Kalo belakangan sinta jojo terkenal banget dengan video lipsyncnya yang diunduh di youtube, sekarang aku mencoba peruntungan yang sama ... hahaha .. buukan untuk cari popularitas seperti mereka, video ini aku buat karena keadaan setengah sadar atau boleh dibilang stress akut a.k.a frustasi a.k.a autis karena ngerjain tugas kuliah waktu itu .. Emang aku agak kaget dengan tugas yang satu itu, pertama dengan ketebalan yang MasyAllahh, kesulitan yang Naudzubillah, dan kesulitan yang Astaghfirullah .. heheheh :D

Ini nih videonya, yang dibuat di kamar kostku , bersama sang sahabat yang tidak normal akal dan kelakuannya ..
hahahahaha :D


itu videoo yang dibuat pertama kalii.. pake lagu dari Barry Likumahuwa judulnya Mati Saja ...
Keliataan banget autisnya ya ... hwhwhhwh :D

Lanjut nih ada video kedua kitaa, judulnya Kota Santri.. nih ide dari Saka,, ada -ada tuh anak,, kok kepikiran ya mau pake lagu itu .. hahaha
cekidot :

(versi gagal)


(full version) hahaha :D


cukup sekian, terima kasih ..
video diatas cuma buat lucu-lucuan, jika ada kesamaan nama, karakter, tempat, itu kayanya ga disengaja ... hahaha

Studio oh Studio ...

Senin, 17 Januari 2011

Inilah tugas terberat di Semester 3 yang udah selesei minggu lalu. Gilaaa baru ini deh ngerjain tugas yang tebelnyaa lebih dari 200 lembar. Prosesnya juga ga tanggung-tanggung, bukan hasil coppas dari mbah google, tapi emang hasil dari tangan kita . meskipuun ada dikiit(lah) coppas atau istilah kita di Surabaya itu "Mbacem" dari tugas senior kita.

Tapi Allhamdulillah akhinya selesei juga ni tugas :)
Semoga hasilnya memuaskann ..
Smoga studio2 berikutnya dikasi kelancran ngerjainnya ma Allah SWT ..
Amin ..

Makasiih Ya Allaaah :D

Ini nih penampakannya : :))